Bahasa Orang Kafir? Adakah?

“Untuk apa, Bu belajar Bahasa Jepang. Itu Bahasa orang kafir. Lihat saja kebiasaan mereka. Minum arak setiap hari, makan babi, seks bebas, trus lihat itu film-filmnya. Merusak moral umat. Buat apa kita belajar bahasa mereka? Salah-salah kita malah ikut kebiasaan mereka.”

Itu kata seorang murid saya beberapa tahun lalu. Saat itu saya mengajar di sebuah Madrasah Aliyah Negeri. Terus terang saya tersinggung. Ilmu yang saya pelajari dengan susah payah dia anggap tidak berguna. Kalau mau ikuti emosi, mungkin anak itu sudah saya tampar mulutnya.

Iya, budaya kita beda dengan budaya Jepang. Agama sudah jelas banyak perbedaan. Tapi apa iya mempelajari yang begitu berbeda bahkan kadang berlawanan itu tidak berguna? Saya sudah jelas percaya ilmu apapun seremeh apapun akan selalu berguna, walau tidak kelihatan namun bisa meringankan beban seseoang, tentu merupakan sedekah yang tak ternilai. Dan dari Jepanglah saya belajar mengenai hal itu.

Mempelajari yang sudah kita yakini benar tentu akan sangat mudah, sayangnya selain yang sejalan dengan keyakinan kita ada hal lain yang harus kita pelajari. Untuk memenangkan sebuah perang kita harus mempelajari musuh kita. Bukan berarti saya mengatakan Jepang adalah musuh. Mempelajari apapun  di luar yang biasa kita pahami atau percayai tentu akan banyak tantangan batin. Terpecah antara rasa ingin tahu dan keinginan untuk menghindar itu selalu ada.

Seperti dalam kasus saya, Ilmu Budaya dan Bahasa Jepang. memiliki kesempatan untuk mengajarkan itu di sebuah Madrasah merupakan kesempatan langka dan berharga (menurut saya). Tanpa ada niat menggiring anak ke jalan yang tidak sejalan dengan Islam, saya tetap harus memperlihatkan mereka bagaimana orang Jepang itu berinteraksi dan beraktivitas setiap hari. Tentu ada banyak yang tertarik, ada juga yang cuek, ada juga yang memicingkan mata tidak suka. Wajar sih. Beban Madrasah itu berat. selain mengikuti pelajaran biasa mereka masih harus menalami agama Islam. Ditambah dengan pelajaran tambahan seperti bahasa asing, tentu berat sekali. 

Tapi di luar beban pelajaran, ada anak yang seperti yang saya katakan tadi, tidak suka mempelajari sesuatu yang dia anggap tidak penting bagi kehidupannya. Saya tidak bisa menyalahkannya, dan saya tidak mengharapkan dia untuk suka. Tapi bisa meremehkan suatu ilmu itu merupakan tanda cara berpikir yang sangat picik. Oke ia masih SMU, masa remaja, belum banyak pengalamannya. Tapi… entah, dia dicekoki apa oleh siapa sehingga bisa membagi dunianya seperti itu. dunia dia yang bersih dan dunia luar yang kotor. Saya adalah penghubung dunianya yang bersih dan kotor. Saya adalah pintu. dan dia anggap kunci saya terlalu longgar. Oh dear…

Ketika itu saya menjawab, “Kau tahu di Jepang ada banyak orang yang teratrik dengan Islam, terlepas mereka mau masuk atau sekedar ingin tahu. Kamu itu dari Madrasah, yang pengetahuan agamanya lebih banyak dari anak sekolah umum. Kalau suatu saat kamu harus menerangkan itu ke orang Jepang, apa nggak lebih baik kamu tahu bahasanya?”

Dia membalas, “Tapi kesempatan kayak gitu seberapa banyak sih, Bu? Belum tentu juga dalam hidup saya ketemu orang Jepang. Mendingan belajar Bahasa Arab. Udah jelas saya butuh, bisa mendalami agama. Bahas Inggris kan juga bahasa penjajah, tapi kan butuh.”

Saya mengurut dada dalam batin ketika dia membalas seperti itu. “GIni deh, kamu punya gadget handphone, televisi, dsb, bahasa yang tertera di cara pakainya apa?”

“Bahasa Inggris”

“Nah , kalau itu sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Kalau masih Bahasa Jepang? Kamu butuh ga orang yang bsia menerjemahkan itu ke Bahasa Indonesia?”

“Iyalaaah”

“Kamu bisa nggak jadi orang itu?”

Anak ini diam. tapi sudah jelas di matanya kalau dia tidak akan menganggap serius pelajaran saya. Saya cuma bisa manyun.

Dan benar juga, ketika ujian, hampir semua yang dia jawab salah. jika tidak pakai remedial, nilainya bisa jadi cuma 20. Pikir saya, bebannya terlalu berat. Mungkin capek belajar yang lain dsb. Itu penyangkalan saya karena saya tahu selama pelajaran Bahsa Jepang ia tidak pernah serius.

Saat itu saya sadar, saya tidak bisa merubah orang seketika. Ada pengaruh lain selain pengaruh saya dalam kehidupannya. Yang mana yang membuatnya jadi punya cara berpikir diskriminatif, saya tidak tahu. Semoga saja semakin dewasa ia semakin belajar bahwa dunia tidak terbagi menjadi dunianya dan dunia luar, hitam atau putih, tapi berwarna-warni. Semoga ia tidak lagi meremehkan ilmu, tapi lebih mengasah keingin tahuanya dan belajar banyak. Tidak terjerumus dalam gaya hidup yang merusak umat dan dirinya, tapi bisa luwes dan berinteraksi dengan siapa saja.

 

Dan semoga siapapun yang mencekoki anak ini dengan cara berpikir picik segera diberikan pandangan yang luas.

Dan semoga saya bisa lebih sabar menghadapi orang-orang seperti ini.

Tautan

No drama, King Obama

An interesting opinion about the way Obama represents himself during campaigns and debates. What makes it more interesting is about Obama’s education background in Java Indonesia that, according to Mr. Fox here, shapes the way he interacts with his voters and rivals. ^^

datang pada waktunya

Jodoh itu sudah diatur. Akan datang pada waktunya. DIpercepat dengan doa, didekatkan dengan usaha. Begitu kata orang dulu.

Topik ini jadi bahan obrolan dengan teman beberapa waktu lalu. Saya mengabarkan seorang teman akan menikah. BUkannya membicarakan pernikahan si teman, kami malah membicarakan teman kami yang lain. Dia cerdas, berpendidikan tinggi, cukup modis, dan yang paling jadi perhatian kami, sikapnya santun. Orangnya rendah hati dan tidak suka pamer. Kami berdua yang juga masih sendiri bertanya-tanya. Kenapa tidak ada pria yang mau datang pada teman kami itu. Kalau dipiki-pikir gadis ini punya semuanya. Memang dia bukan dari orang kaya sekali. Tapi pendidikannya tinggi. S2. Pernah bersekolah di luar negeri malahan. Kami berkesimpulan, para pria takut dengan gelar S2-nya, atau malah lebih parah takut dengan kecerdasannya. Ya, teman kami itu kecerdasannya di atas rata-rata. Dan teman kami ini tidak pernah menyombongkannya.

Kami agak jahat malah bertanya-tanya tentang kawan kami yang lain yang sikapnya tidak begitu baik (di mata kami) tapi malah dapat pasangan dengan cepat. Sedikit berprasangka buruk: “Siapa yang mau dengannya?” The high maintenance girl. Suka barang mahal, apa-apa selalu diumbar, juga mulutnya kadang tidak bisa dijaga. Belum lagi manjanya.

Mungkin di situ letak keadilan Tuhan. Yang belum dewasa “dipaksa” dewasa dengan menikah lebih cepat. Untuk teman kami ini, mungkin memang belum waktunya. Ia diberi kesempatan untuk berdoa dan mendapatkan calon yang lebih baik untuk dirinya. Mungkin. Kami hanya bisa mendoakan semoga teman kami yang belum menikah itu disegerakan jodohnya. Dan semoga ia bertemu dengan pasangan yang bisa membahagiakannya hingga akhir hayatnya.

Ah mungkin yang dikatakan orang dulu itu benar. jodoh itu datang pada waktunya. dan kami, para wanita dan pria, hanya bia berusaha dan bersabar. ^^