Pesta Buku Universitas Indonesia tahun 2010 ” Read the book, Save the heritage ” salah satu acara Ikatan Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan (IMASIP) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia yang mengedepankan konsep edutainment dalam setiap kemasan acaranya. Sebagai salah satu upaya untuk mengkampanyekan buku dan kegiatan membaca. Dengan tidak meninggalkan konsep edutainmet dalam setiap acara yang digelar, keseluruhan rangkaian acara pada festival ini mengambil buku dan budaya sebagai dasar proses kreatif pembuatannya.
Kamis s.d. Sabtu, 11-13 Februari 2010
Gedung IX Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia (FIB UI)
JADWAL HARI PERTAMA
>>>Pembukaan: Tari Gelimpang oleh SMA 87 Jakarta (pkl 09.00-10.00 WIB)<<<
>>>Talkshow “Green Library” (pkl. 10.00-12.00 WIB)<<<
Tempat : Auditorium Gedung IX FIB UI
Pembicara:
- Yandi Andri Yatmo (Senior Arsitek UI)
- Tamara Adriani Susetyo-Salim (Dosen PSIP)
Moderator : Wieke Harmandar (Pemimpin Umum Koran Kampus Media Center Salam UI)
>>>Lomba Mading “Budaya Indonesiaku” (pkl. 10.00-14.30 WIB)<<<
Tempat : Ruang 9204 FIB UI
Juri:
- Yorgi Gusman (Editor Majalah Hai)
- Trinzi (Redaktur Majalah Kawanku)
- Panitia Lomba Mading & Polling Penonton
Pendaftaran : Rp. 125.000,- (PIC: Erna 0856 7524 360)
>>>Talkshow “Pemuda Indonesia dengan Budaya” (pkl. 13.00-15.00 WIB)<<<
Tempat : Auditorium Gedung IX FIB UI
Pembicara :
- Alanda Kariza (Penulis dan Duta “Indonesian Youth Conference” )
- Medha dan Wimmy (Abang dan None Jakarta 2008/2009)
- Pandji Pragiwaksono (Public Figure)
Moderator: Hadian
>>>Putar Film (pkl. 15.00-17.00)<<<
Tempat : Ruang 9204 FIB UI
Film Indie : Anak Naga Beranak Naga
Harga Tiket Masuk (HTM): Rp 3000/orang dan Rp 5000/2 orang
>>>Pementasan Teater (pkl. 15.00-18.00 WIB)<<<
Tempat : Auditorium Ged. IX FIB UI
Teater Pagupon (Sastra Indonesia UI) dan
Emhamkam (SMA 6 Jakarta).
HTM. Rp. 6000,-
JADWAL HARI KEDUA
>>>Seminar Perpustakaan Sekolah (pkl. 09.00-16.00 WIB)<<<
Tempat : Ruang Seminar Ged. B Perpustakaan Pusat UI
Sesi 1 “Mengubah Image Perpustakaan Sekolah”
Sesi 2 “Peran Perpustakaan Sekolah dalam Pendidikan”,
pembicara :
- Paramitha (Dosen Arsitektur & Penulis ‘Gedung Perpustakaan Sekolah’)
- Ihsan (Pustakawan MAN Insan Cendikia)
- Bambang (Forum Perpustakaan Sekolah Indonesia)
- Taufik Tea (Penulis Buku ‘Inspiring Teacher’)
- Theresia E.E. Pardede (Public Figure dan Anggota X DPR RI bid. Pendidikan & Perpustakaan)
- Zulfikar Zen (Dosen PSIP)
Moderator : Mendy (Alumni PSIP)*
>>>Bedah Buku “ Tanah Tabu” (oleh : Anindita S. Thayf, Gramedia Pustaka Utama, Mei 2009) Novel pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2008 (pkl.10.00-12.00 WIB)<<<
Tempat : Auditorium Gedung IX FIB UI
Pembicara :
- Anindita S.Thayf (penulis buku Tanah Tabu)
- Seno Gumira Ajidarma (budayawan dan penulis)
- Moderator : Najwa Shihab*
>>>Talkshow “Kuno Kini ala Novel Sejarah” (pkl.13.00-15.00 WIB)<<<
Tempat : Auditorium Gedung IX FIB UI
Pembicara:
- E.S. Ito (penulis novel “Rahasia Meede”)
- Sujiwo Tejo (Budayawan, Penulis, dan Pemain Teater)*
- Agus (pendiri Komunitas Historia Indonesia)
Moderator : Bondan K
>>>Pentas Musik Akustik “Kontemporetnika” (pkl. 15.00-18.00 WIB)<<<
Tempat : Auditorium Gedung IX FIB UI
Guest Star: EFEK RUMAH KACA
More band: Retrieval of Silent Library (RSL), Bobrocks, Rumah Kardus, Seralola, dan Boekoe Bambu.
>>>Putar Film (pkl. 13.00-16.00 WIB)<<
Tempat : Ruang 9204 FIB UI
Harga Tiket Masuk (HTM): Rp 3000/orang dan Rp 5000/2 orang
JADWAL HARI KETIGA
>>>Talkshow Meet the Authors “The Amazing Trip ala Backpackers” (pkl. 13.00-15.00 WIB)<<<
Tempat : Auditorium Gedung IX FIB UI
Pembicara:
- Trinity (Pengarang “The Naked Traveler”)
- Andara Rainy Ayudini (Putri Pariwisata 2009)*
- Sonson Ns (Pengarang “Merencanakan Sendiri Jalan-jalan Keliling Dunia”)
Mod : Dicky Sonjaya (Reporter TV “Keliling Indonesia”)
>>>Seminar & Workshop IT Perpustakaan (pkl. 09.00-16.00 WIB)<<<
Tempat : Ruang Seminar Ged. B Perpustakaan Pusat UI dan Laboratorium Komputer Ged.A Perpustakaan Pusat UI
Pembicara:
Seminar
- Romi Satria Wahono (Pakar IT)
- Nukman Lutfhie (Pakar Marketing)
- Wien Muldian ((staf perpustakaan Kementerian Pendidikan Nasional))
Moderator: Ade Farida (Pustakawati Kedubes USA)
Workshop
- Ari Nugraha (Dosen PSIP)
- M.Prabu Wibowo (Dosen PSIP)
Investasi: mahasiswa Rp 80.000,- Umum: Rp 150.000,-
Informasi (PIC: Hera 0852 14481153)
>>>Bedah Buku “Menanti Sekarini” (pkl. 10.00-12.00WIB)<<<
Tempat : Teater Daun FIB UI
Pembicara:
- Diani Savitri (Pengarang “Kumpulan Cerpen Menanti Sekarini”)
- Budiman Soedjatmiko (Peminat Budaya)
>>>Lomba Masak ”Kreasi Gado-gado Betawi” (pkl. 10.00-12.00 WIB)<<<
Tempat : Lapangan Parkir Mahasiswa FIB UI
Juri: Gado-gado Boplo*
Pendaftaran : Rp. 30.000,- (PIC: Adit 0856 9450 6738)
>>>Gelar Dongeng Anak ”Kenali Indonesiaku, Kenali Budayaku” (pkl. 09.00-12.00 WIB)<<<
Tempat : Auditorium Ged.IX FIB UI
Pengisi Acara:
- Kak Rico (Pendongeng Jenaka)
- Belalang Kupu-kupu (Komunitas Dongeng dan Teater)
- Klub Dongeng UI
>>>Lomba Dongeng Anak “Cerita Rakyat dari Daerahku” (pkl.09.00-13.00 WIB)<<<
Tempat : Ruang 9204 FIB UI
Juri :
- Kak Awam Prakoso (Pendongeng dari Sanggar Kampung Dongeng)
- Dwi Cahyadi (Klub Dongeng KANVAS)
- Mochammad Ariyo Faridh Zidni (Pendongeng lulusan Universitas Indonesia)
Biaya Pendaftaran : Rp. 25.000,- (PIC: Savira 085697739061)
>>>Kids Corner<<<
Tempat : Parkir Mahasiswa FIB UI
SETIAP HARI: BAZAAR BUKU dengan diskon besar-besaran!!
Informasi lebih lanjut: www.uibookfest.com atau ui.bookfest@gmail.com
SUMBER:
http://www.facebook.com/event.php?eid=431499885461
http://www.facebook.com/event.php?eid=424615670724
http://www.facebook.com/event.php?eid=292895790038
Graphic Diary “Berbagi Hidup”

Tanpa harus mengumbar rasa kasihan dan kesedihan, kami mencoba mempersembahkan kisah-kisah anak Indonesia yang hidup dengan HIV AIDS.
Yang paling mengharukan dan berkesan ketika bertemu dengan kakek dari anak yang kisahnya saya gambar. Beliau bercerita bahwa tokoh yang saya gambar mirip dengan cucunya. Beliau juga bercerita bagaimana ia harus berjuang mempertahankan hidup si anak. Kekhawatiran bagaimana jika sang kakek “dipanggil” Yang Maha Kuasa terlebih dahulu, dsb. Senang karena bisa terhubung dengan orang lain… Semoga karya yang jauh dari sempurna ini bisa bermanfaat. Bagi mereka, bagi saya juga bagi orang banyak.
diambil dari bukucurhat(dot)net
Adalah hal yang menyenangkan bila anak-anak dapat bebas bermain, tertawa, bercanda, bercerita. Dan adalah hal yang sangat mengharukan dan mengagumkan, bila anak-anak ceria tersebut sebenarnya membawa beban berat dalam diri mereka, seperti yang dialami mereka yang tergabung dalam Komunitas Anak Berbagi Hidup (KABH). Anak-anak ini terlahir dengan mengidap HIV, namun semangat hidup mereka sangat besar. Mereka dapat tampil dengan tegar dan tabah di hadapan publik, bukan untuk meminta belas kasihan, tapi agar mendapat perlakuan wajar dari masyarakat.
Mereka ingin mengungkapkan perasaan bahwa mereka adalah juga anak-anak biasa yang perlu perhatian dan kasih sayang, tanpa diskriminasi. Melalui Berbagi Hidup ini, kisah-kisah, kesenangan dan cita-cita mereka tertuturkan dalam gambar, di mana hal-hal yang tampaknya sederhana dalam hidup mereka menjadi sangat bernilai dan patut disyukuri.
KABH dan Penerbit Curhat Anak Bangsa mempersembahkan buku ini bagi siapa pun yang hendak bersama-sama menikmati setiap saat dalam kehidupan, dan membaginya pada sesama.
“Berbagi Hidup” merupakan hasil kolaborasi antara Komunitas Anak Berbagi Hidup dan Penerbit Curhat Anak Bangsa, berisi kisah-kisah nyata anak-anak ODHA yang dibuat dalam bentuk cergam berwarna.
Ukuran: B5 (35 x 15 cm)
Jumlah halaman: 24 halaman + cover
Kertas isi: art paper
Print: full color
Artists:
Tita Larasati
Sheila Rooswitha
Tri Prasetyningtyas
Malia Hartati & Rony Amdani
Adiputra
Cover artist: Mia Diwasasri
Desain cover: Dudi Suwardi
Penerbit: Curhat Anak Bangsa
Donasi: Rp. 25.000 boleh lebih (di luar ongkos kirim)
Cara memesan
1. Emailkan alamat pengiriman dan jumlah buku yang dipesan ke drawyourdays@gmail.com
2. Tunggu konfirmasi penerimaan pemesanan dan jumlah biaya pengiriman
3. Transfer ke: BCA 578 0483 158 a.n Frenki Tampubolon
4. Setelah itu, bukti transfer harap dikirimkan ke email drawyourdays@gmail.com ATAU di-fax ke 022 7319981
5. Buku-buku pesanan akan dikirimkan setelah bukti transfer diterima
ATAU
Dapat diperoleh langsung di Komunitas Anak Berbagi Hidup
Jl Cempaka Putih Barat XXI No 34 Jakarta Pusat Tlp. 021. 42802349-50
PiC: Frangky Tampubolon
Semoga berkenan…
My Facebook live feed is filled with some specific issues recently. About luxurious facilities in jails, Sri Mulyani, Century Bank, Gurita Cikeas, Haiti earthquake, and the most shocking thing is about Naburo.
I’m surprised about the last said issue, since I never imagined it would be this big, widespread in the internet world. I knew about the comic from a few friends. They told me about this book titled Naburo. We talked about it like a joke. And then the issue vanished from our conversation. It’s not even worth to talk about.
And then a few days later, I read a note which also contains previews from the said comic. It’s shocking, and what’s more shocking about it. The issue is already widely known in the internet world, not just between Indonesian users but also international users. What broke my heart the most is in a forum (when I’m browsing about this comic) there are some bad opinions about Indonesian artworkers as a whole. I know they didn’t mean it like all Indonesian artists are copiers, but their words sure are harsh. No I’m not blaming them. It’s natural if they have that kind of opinion after the issue arise.
What made me mad is, a few person’s doing can ruin his/their/hers entire country’s reputation. Please realize that we live in a shrinking world, where information can spread widely in a matter of seconds. Especially if you work in media, online or offline. You made a blunder once, everyone will have the details or even the elaborated details in an hour. If it’s too late, explain, clarify, or apologize immediately.
Naburo is an example. And sadly it’s definitely not a good one. A published comic book from a small publisher in a un-metropolitan city could be this famous and can be as famous as it’s claimed ‘first generation’. Have to admit, it is famous now. Not as a praised work, but it still became famous. We made it famous, I made it famous. From our talks, our rants, our praises (some like it). Maybe that’s what the publisher and writer are looking for. controversy is a kind of promotion. I knew some publishers do like to publish controversial materials because it would sell. Some writers and artists also do this. They use consumer’s curiosity to market their products.
If the controversial product is made with great effort and has originality, I have no complain. But it’s different if it was a copied or traced piece (not to mention if it’s badly traced). This kind of halfhearted effort is a disgrace not just for the ones who produced it but also, their colleagues. In this matter our country, Indonesia, and her artworkers, got the blame.
So I’m telling the world this: Not ALL Indonesian artists are plagiarist, not ALL of them have the habit to copy somebody else’s work. There are many good and great Indonesian artists. There are more who work hard by not copying and studying to be a better artist. Yes they all get inspirations from other’s works, but they improve their skills, their views, their thoughts by learning more than just copying the works. Please do not judge us by some individuals’ actions.
Too bad there are still no explanation from either the publisher or the maker.
Perjalanan singkat ke Bandung pada liburan tahun baru kemarin selain membawa semangat baru juga membangkitkan kenangan akan film2 Ghibli yang dulu pernah saya tonton. Menginap di rumah sepasang penggemar berat Ghibli lalu dipertontonkan video konser 25 tahun Ghibli, siapa yang tidak akan ketagihan untuk mendengarkannya lagi…
Dua ;agu yang paling saya sukai dan membuat saya jatuh cinta adalah Kimi wo Nosete dari Tenkuu Shirou Laputa, dan Kaze no Tooru Michi dari tonari no Totoro. Begitu saya sampai di rumah saya langsung browsing di Youtube siapa tahu ada videonya… dan ternyata ada
… Hebatnya lagi ada berbagai macam interpretasi dari karya2 Joe Hisaishi itu. Apalagi banyak juga yang dipertunjukkan dengan menggunakan berbagai macam alat musik… Wuah…

